Monday, August 16, 2004

Mengapa ?
Mengapa kita menjadi seperti ini ?
Kita dianugrahi menjadi sangat kaya raya
Tetapi sekarang kita terpuruk miskin tak berdaya
Kita diberikan kecantikan surgawi
Namun tersia-sia tak terurus
Mengapa kita menjadi sebodoh ini ?
Hasil karya kita diakui milik orang lain
Kekayaan kita banyak direbut orang lain
Dan semua dilakukan dihadapan mata kita
Tetapi apa tindakan kita ?
Kita hanya diam !
Kita terima tanpa marah
Jika ada yang berontak, langsung dibabat !
Jika ada yang berbicara, lidahnya akan terpotong !
Kita menjadi terhipnotis
Seperti layaknya kerbau yang dicocok hidungnya
Tak berpendirian dan ikut-ikutan kemanapun ditarik
Lalu apa artinya merdeka ?
Katanya kita sudah merdeka selama 59thn ?
Katanya sudah menjadi modern ?
Katanya kita adalah makhluk-makhluk terpelajar ?
Katanya… hanya katanya !
Kenyataannya…
Kita semakin bodoh !
Semakin terjajah !
Dan semakin terbelakang !
Sungguh malang keadaan kita
Hingga bayi-bayi kita yang baru lahir
Harus pula menanggung beban kita
Kita memang sudah merdeka selama 59 thn
Kita juga sudah banyak mengorbankan para pahlawan
Untuk mendapatkan kemerdekaan
Tetapi…
Semua itu sekarang menjadi perjuangan yang sia-sia

Persembahanku untuk ulang tahun Indonesia ke 59
Bangkitlah negaraku, Tanah airku !

Adikku...

Tanggal 29 september 1989
Kau lahir
Hari itu…
Kau muncul ke dunia ini
Betapa senangnya kakakmu ini
Melihat kau berbaring disana
Tapi…
Kau tidaklah tidur
Betapa hancurnya hatiku
Saat mengetahui
Kau telah pergi
Pergi selama-lamanya
Adikku…
Kau telah lama pergi
Aku tidak akan bisa melupakanmu
Karena aku sangat menyayangimu
Ingatkah engkau ketika kau masih dini
Siapa yang mengendongmu dengan erat ?
Memanjakanmu dengan kasih sayang yang tulus ?
Dan menjagamu dikala kedua orang tuamu sibuk bekerja ?
Pasti kau sudah mulai melupakannya, bukan ?
Ya…
Itu memang nasibnya
Selalu sendirian tanpa ada yang menemani
Semua pergi meninggalkan dia
Sendirian tanpa canda tawa
Yang dulu selalu mengisi dinding-dinding rumahnya
Bahkan tidak ada lagi suara ribut pertengkaran kalian
Yang mewarnai hari-harinya dahulu
Masih sayangkah kalian kepadanya ?
Masih adakah rasa rindu kalian kepadanya ?
Ia ingin sekali melihat kalian lagi
Melihat wajah dan senyum indah kalian
Juga mendengarkan tawa renyah kalian dihadapannya
Bukan hanya mendengarkan suara jauh kalian
Sambil menatap tembok kosong
Dan membayangkan seperti apa kalian sekarang
Ia ingin melihatmu, memelukmu, dan menciummu lagi
Seperti hari-hari dulu yang selalu ia rindukan
Sebelum nafas satu-satunya terbang melayang
Dibawa pergi olehNya

Indra

Semua mata melihat kagum
Semua tangan menjabat tanganmu dengan keras
Semua mulut membicarakanmu
Semua telinga mendengarkan semua ucapanmu dengan seksama
Semua rasa kagum tertuju kepadamu
Tetapi…
Ia tidak !
Ia melihatmu rendah
Dia tak mau mendengarkan suaramu
Dia merasa kebenciannya kepadamu t’lah memuncak
Dan tangan besarnya
Tak ragu-ragu menampar pipimu
Hingga semerah darah
Kenapa ?
Ini semua karena lidah tak berdosamu
Ia t’lah sengaja mengucapkan rahasianya
Rahasia yang selalu ia tutupi
Sekarang ia bukan lagi teman baikmu
Bukan lagi sahabat sejati yang kau banggakan
Melainkan…
Seorang musuh terbesarmu
Yang selalu siap menikammu
Seperti kala kau menikamnya dahulu
Ia tertunduk disana sendirian diam dan tanpa senyum
Ia sekilas menatapku tapi kemudian menatap kearah lain
Wajahnya yang lugu dan sendu
Membuat orang-orang yang memandangnya
Tak sanggup menyakiti perasaannya yang lembut
Ingin hati bergerak mendekatinya
Tapi keberanianku menciut
Ketika ia menatapku sekali saja
Kupendamkan segala rasa ingin tahuku
Kupendamkan rasa ketertarikanku terhadap dirinya
Tapi tak bisa
Ah aku tidak peduli lagi dengan tatapannya !
Kuberanikan diriku untuk berkenalan dengannya
Aku cepat-cepat berhenti mendekatinya
Ketika ku melihat seseorang pria mendekatinya
Dan membawanya pergi
Mataku panas
Ingin rasanya menangis dan berteriak sekerasnya
Hatiku tercabik-cabik melihatnya
Karna itulah pertama
Dan terakhir kalinya
Aku menemukan sebuah teddy bear putih lucu
Yang tak pernah kujumpai dimana pun